Motif Megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai
motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta
batik, begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Bukti ketenaran
motif Megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan sebagai cover
sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin
Van Roojen bangsa Belanda.
Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang
diambil dari berbagai macam buku dan literature selalu mengarah pada sejarah
kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas
dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China.
Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik,
piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan dalam beragam budaya
melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Bentuk awan
merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental
(Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia kesenirupaan
Islam pada abad 16 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar
atau alam bebas.
Nilai-nilai dasar dalam Megamendung
Nilai-nilai dasar dalam seni apapun termasuk dalam seni batik motif megamendung bisa didekati dengan cara sbb:
a. Nilai Penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Nilai bentuk yang bisa dilihat secara visual adalah motif megamendung dalam sebuah kain yang indah terlepas dari penggunaan bahan berupa kain katun atau kain sutera. Sementara dalam nilai struktur adalah dihasilkan dari bentuk-bentuk yang disusun begitu rupa berdasarkan nilai esensial. Bentuk-bentuk tersebut berupa garis-garis lengkung yang disusun beraturan dan tidak terputus saling bertemu.
b. Nilai Isi (Content) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri dari atas moral, nilai sosial, nilai religi, dsb.
Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah).
Nilai-nilai dasar dalam seni apapun termasuk dalam seni batik motif megamendung bisa didekati dengan cara sbb:
a. Nilai Penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Nilai bentuk yang bisa dilihat secara visual adalah motif megamendung dalam sebuah kain yang indah terlepas dari penggunaan bahan berupa kain katun atau kain sutera. Sementara dalam nilai struktur adalah dihasilkan dari bentuk-bentuk yang disusun begitu rupa berdasarkan nilai esensial. Bentuk-bentuk tersebut berupa garis-garis lengkung yang disusun beraturan dan tidak terputus saling bertemu.
b. Nilai Isi (Content) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri dari atas moral, nilai sosial, nilai religi, dsb.
Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah).
c. Nilai Pengungkapan (presentation) yang dapat menunjukkan adanya
nilai bakat pribadi seseorang, nilai ketrampilan, dan nilai medium yang
dipakainya. Ungkapan yang ditampilkan oleh senimannya berupa proses batik yang
begitu indah dengan memberikan goresan lilin lewat alat yang dinamakan canting
terbuat dari bahan tembaga tipis yang dibentuk secara hati-hati sehingga lilin
panas yang melewati ujung canting bisa mengalir dengan lancar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar